Kamis, 26 November 2009

Apa sih budaya Sunda itu . . . . ??

Kita sering mendengar budaya Sunda, tapi kita masih belum mengetahui apa yang dimaksud dengan budaya Sunda tersebut dan kita juga belum banyak mengetahui apa saja yang ada pada budaya Sunda ini. Oleh karena itu saya akan memberi sedikit informasi yang ada pada budaya Sunda tersebut.
Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda , ramah tamah (someah), murah senyum lemah lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya dan masyarakat sunda. Di dalam diajarkan bahasa Sunda bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua dan juga biasanya dipakai untuk acara-acara resmi seperti acara-acara penyambutan ataupun acara pernikahan, contohnya "Wilujeung Sumping", "Kuring", "Anjen", "Sumuhun" dll. Adapun bahasa Sunda yang kasar biasanya digunakan pada bahasa sehari-hari dan biasanya para remaja yang sering menggunakan bahasa Sunda yang kasar ini, contohnya "Aing", "Maneh", "Batur", "Bae", dll.

Contoh Upacara Adat yang ada di Budaya Sunda...

Upacara Adat Seren Taun

Di Sindangbarang terdapat Upacara Adat Seren Taun, yaitu merupakan upacara pesta panen raya masyarakat adat Sunda Ladang pada jaman dahulu kala sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Upacara ini telah berlangsung sejak masih jayanya kerajaan Pajajaran dan berlangsung hingga kini. Diselenggarakan setiap tahun pada bulan Muharam. Pada upacara Seren Taun semua masyarakat desa pasir eurih terlibat, bahkan tamu-tamu dari seluruh jawa barat pun selalu hadir untuk menyaksikan. Upacara ini berlangsung selama 4 hari meliputi upacara ritual dan penampilan kesenian tradisional.

Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban

Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.
Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.
Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.

Upacara Nenjrag Bumi

Upacara Nenjrag Bumi ialah upacara memukulkan alu ke bumi sebanyak tujuh kali di dekat bayi, atau cara lain yaitu bayi dibaringkan di atas pelupuh (lantai dari bambo yang dibelah-belah ), kemudian indung beurang menghentakkan kakinya ke pelupuh di dekat bayi. Maksud dan tujuan dari upacara ini ialah agar bayi kelak menjadi anak yang tidak lekas terkejut atau takut jika mendengar bunyi yang tiba-tiba dan menakutkan.

Upacara Sawer (Nyawer) Perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.

Dan masih banyak upacara-upacara adat Sunda yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.


Tarian Tradisional Budaya Sunda..


Salah satu tarian adat sunda adalah JAIPONGAN. Jaipongan merupakan tarian adat sunda yang berasal dari jawa barat tepatnya kota Bandung. Jaipongan tercipta karna kreativitas urang banbung, yakni Gugum Gumbira.
Beliau menginpirasikan kreativitasnya dengan menarikan sebuah tarian yang disebutnya Jaipongan.
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri).Jaipongan kini sering dipakai untuk acara-acara upacara pernikahan, adat dan penyambutan petinggi-petinngi negara. bahkan jaipongan sudah hingga benua asia dan eropa.
ciri khas jaipongan adalah gaya kalerannya, yakni keceriaan, humoris, erotis, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami/apa adanya).

Baju Adat Budaya Sunda..

Salah satu pakaian adat sunda yaitu Kebaya. Kebaya merupakan pakaian kahas sunda yang sudah sangat di kenal di seluruh indonesia maupun luar negri. Karena kebaya sudah sangat terkenal, kini kebaya tidak hanya sebagai pakaian khas sunda tetapi sudah menjadi pakaian nasional negara kita.

Dalam adat sunda, kebaya biasanya dipakai untuk acara-acara adat, pernikahan, dan upacara suku adat sunda. Pada zaman dahulu kebaya hanaya dipakai oleh kalangan orang terpandang atau putri raja. Namun sekarang, kebaya dapat dipakai oleh siapa saja dari kalangan anak-anak, pemuda, maupun orang tua.

Kebaya dikenal dengan motifnya yang menarik dan indah. Bahannya pun sangat istimewa. Tidak salah apabila kebaya dijual dengan harga yang cukup mahal, karena kebaya mempunyai bahan dan motif yang berbeda dari pakaian adat lainnya.

Alat Musik Tradisional Budaya Sunda..

Kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu. Didaerah Bandung ada salah satu sanggar yang mengajarkan permainan alat musik tradisional ini yaitu Saung Angklung Udjo. Disaung ini ada beberapa koleksi angklung dari yang terbesar sampai yang terkecil, ada pula koleksi beberapa wayang khas sunda, setiap sore hari saung ini sering mengadakan acara pertunjukkan angklung untuk umum.

Makanan khas Sunda . . .
Adapula makanan khas dari Jawa Barat ini salah satunya Renginang, Renginang terbuat dari beras ketan yang cara masaknya digoreng seperti kerupuk. Adapula Peyeum yang terbuat dari beras ketan juga hanya saja cara pembutannya berbeda dengan Renginang. Peyeum dibuat dengan menggunakan ragi lalu didiamkan beberapa hari sampai Peyeum itu masak. Adapula minuman khasnya salah satunya adalah Cendol, masih banyak lagi makanan dan minuman khas Sunda yang tidak kalah rasanya dengan makanan-makanan khas dari budaya lain.

Masih banyak lagi yang ada pada budaya Sunda yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Kita sebagai generasi penerus harus terus melestarikanya agar budaya-budaya kita tidak punah dan tidak diklaim oleh bangsa lain.

Bila ada kesalahan atau kekurangan pada tulisan saya ini mohon dimaafkan,.

Hatur nuhun....

sumber : Google.com
wikipedia



0 komentar:

Poskan Komentar

 

RIZKI NURULLAH ( KIKI ) Design by Insight © 2009